Selasa, 25 Oktober 2016

cerpen menyentuh kesucian cinta


Kesucian Cinta

 

          Untuk pertama kalinya aku mulai menulis diary. Aku mulai menulis seperti ini karena untuk pertama kalinya aku mencintai seorang wanita secara sungguh-sungguh. Wanita tersebut begitu spesial bagiku selain paras yang cantik nan rupawan tetapi dia memiliki naruni hati yang suci. Iman agamanya sangatlah bagus,tak seperti wanita pada umumnya. Dia begitu suci nan mempesona,wajah polos dan lugunya membuat hati ini berdegup kencang. Ku mencoba mendekatinya meskipun dia selalu menghindariku. Ku berusaha untuk memikat hatinya,bukan hanya aku saja yang menyukainya. Melainkan para laki-laki di desaku yang begitu menyukainya, dia memang wanita yang sangatlah cantik, tak salah jika dia disebut kembang desa. Semua laki-laki berlomba-lomba untuk memikat hatinya. Namun sama saja,semuanya di tolak mentah-mentah olehnya. Jujur sebenarnya naluriku takut untuk mengungkapkannya,karena dari seluruh teman-teman ku semuanya ditolak olehnya. Apalagi aku yang jauh keren dan sempurna di bandingkan dengan temanku.

          Hari jum’at habis shalat maghrib aku mencoba mendekatinya setelah dia baca Al-Qur’an. Ku paksakan hatiku untuk memberanikan diri untuk mengungkapkan semuanya. Meskipun dari gerak tubuh sangatlah menolak untuk mengungkapkan isi hatiku padanya. Namun sebagai pria sejati aku mulai memberanikan diri untuk berbicara padanya.

Aldi    : “assalamu’alaikum.” Ucapku dengan nada terbata-bata.

Rika    : “iya wa’alaikumussalam. Ada apa mas?” Ucapnya sambil tersenyum padaku

Aldi    : “dek boleh minta waktunya sedikit gak? Mas mau bicara sebentar.”

Rika    : “iya boleh. Mau bicara apa?”

Aldi    : “maaf sebelumnya,aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya. Aku gak ingin ada beban lagi di hatiku. Rik, udah 1 tahun lebih aku menyukaimu. Sejak awal,aku memang menyukaimu. Dari dulu,waktu kita masih duduk dibangku SMA aku sudah menyukaimu. Maaf aku baru bisa mengatakannya sekarang,sebab aku tahu diri tak mungkin juga kamu menyukai laki-laki sepertiku yang jauh dari kata sempurna seperti halnya lelaki yang telah menembakmu sebelum-sebelumnya. Aku dengar banyak tentang kamu menolak para lelaki tersebut,jujur sebenarnya aku takut akan mengakuan ini. Sebab aku takut kamu malah benci denganku sedangkan kamu selalu menghindariku ketika kita berpapasan. Bukan hanya menghindariku menyapaku pun kamu jarang Rik. Sungguh wanita yang hebat kamu Rik,kamu gak seperti wanita lain pada umumnya,kamu berbeda dengan mereka. Rik aku katakan sekali lagi padamu,aku menyukaimu Rik,aku cinta sama dek Rika. Rika,apa kamu mau jadi pacarku?” penjelasanku dengan kringat dingin dan dada yang berdegup teramat kencang.

Rika    : “maaf kan aku mas Aldi,aku gak bisa jawab sekarang. Boleh aku minta waktu seminggu?” dengan seulas senyum dibibir manisnya.

Aldi    : ku menghembuskan nafas yang teramat panjang dan mengatakan “iya Rik,mas akan menunggu jawabanmu satu minggu lagi.”

          Setelah beberapa menit aku dan Rika bercakap-cakap tak lama kemudian adzan isya’ mulai berkumandang. Ku tak menyadari akan kehadiran panggilan ALLAH SWT untuk menjalankan perintahnya yaitu shalat. Aku hanya duduk termenung di hadapan wanita yang ku sukai tersebut.

Rika    : “mas Aldi,shalat isya’ dulu. Mas gak adzanin musholla ini? Jangan bengong mulu mas. Ayo adzanin.” Cakap Rika ketika membuyarkan lamunanku.

Aldi    :” eh… Iya maaf tadi aku gak sadar kalau sudah isya’. Ya sudah aku mau ngambil air wudhlu dulu Rik. Apa mau barengan ke tempat wudhlunya?” ajak ku ke Rika dengan harapan yang tinggi.

Rika    : “iya boleh. Mari mas.” Senyumnya yang melambungkan keikhlasan.

          Setelah selesai mengambil air wudhlu aku segera mengumandangkan adzan dengan hati dan pikiran yang masih kacau balau. Nadaku agak kelantur,untungnya masih bisa ku kendalikan dengan baik,sehingga gak malu-maluin di depan Rika. Setelah adzan aku langsung mengumandangkan pujian yang biasanya disenandungkan oleh Rika. Betapa terkejutnya dia saat aku mengumandangkan pujian tersebut. Rika tersenyum kepadaku begitupun aku langsung membalasnya. Setelah selesai aku mengiqomahkan dan mulai shalat isya’ berjamaah.

          Sesudah shalat isya’ aku memutuskan untuk tetap tinggal di musholla sejenak untuk menenangkan pikiranku yang masih kacau balau. Ku berusaha menenangkannya dengan membaca Al-Qur’an sebentar untuk menghilangkan rasa gundah yang ada di hati dan pikiranku. Ketika aku habis membaca surah Al Fatihah tiba-tiba Rika menghampiriku.

Rika    :”mas Aldi gak pulang?” sapanya

Aldi    :”nanti saja Rik. Masih pengen disini.”

Rika     :”oh. Iya sudah aku pulang dulu mas,jangan lupa nanti lampunya di matikan sama pintunya dikunci. Duluan mas assalamu’alaikum.”

Aldi     :”iya Rik. Lagian kan masih ada pak ustadz juga kan? Iya wa’alaikumussalam,hati-hati dijalan Rik. Apa mau aku antar pulang sampai rumah Rik?”

Rika     :”em,gak usah mas. Mas lanjutin aja ngajinya.” Lalu bergegas meninggalkan ku dengan senyumannya lagi yang membuatku melambung ke atas genteng musholla.

          Setelah ku melihat kepergiannya dari jauh ku mulai membaca Al-Qur’an dengan segenap hatiku. Ayat demi ayat ku baca dengan nada dan lafal yang jelas seperti halnya yang telah diajarkan oleh guru ngajiku dulu. Setelah membaca Al-Qur’an tiba-tiba pak ustadz mendekatiku dan menyapaku.

Ustadz          :”belum pulang nak Aldi?”

Aldi    :”iya pak,belum. Masih pengen disini pak.” Jawabku

Ustadz :”dari wajahmu sepertinya nak Aldo lagi banyak pikiran. Boleh saya tahu permasalahan yang dihadapi oleh nak Aldi?”

Aldi     :”iya pak. Jadi gini pak,saya lagi menyukai wanita yang dari dulu aku idam-idamkan pak. Tadi aku sudah mengungkapkan isi hatiku padanya. Tapi entah kenapa hatiku merasa ada yang aneh pak. Bukannya lega melainkan tambah pikiran tentang jawabannya yang akan diberikan satu minggu pak.”

Ustadz :” kamu menyukai nak Rika bukan? Dari cara kamu menatapnya sehari-hari berbeda dengan yang lain. Tatapanmu lebih tulus dan memiliki makna yang sangat besar. Apa benar tebakanku nak?”

Aldi     :”benar pak. Benar sekali,dari dulu aku memang menyukai Rika pak. Tapi kayaknya Rika tak menyukaiku pak. Karena setiap aku berpapasan atau bertemu dia tak pernah menyapaku bahkan melihatku. Dia selalu menghindariku pak.”

Ustadz :”tak ada yang gak mungkin di dunia ini nak. Semua kejadian pasti mungkin terjadi nak, seperti halnya perasaan mu terhadap nak Rika. Kamu berpikiran bahwa nak rika tak menyukaimu dikarenakan tak pernah menyapa bahkan melihat mu. Itu salah nak,maslah seperti itu bukan berarti dia tak menyukaimu. Sebagai wanita yang sholehah seperti nak Rika sangatlah tidak mungkin untuk melihat seseorang yang bukan mahramnya. Apa lagi kamu dan nak Rika belum menjadi pasangan yang syah dalam agama. Benar sekali pedoman nak Rika,sebab jikalau dia menuruti hawa nafsunya mungkin dia tak akan menjadi wanita sholehah seperti sekarang ini. Coba nak Aldi fahami dari sisi nak Rika sebagai muslimah dalam ilmu agama yang telah nak Aldi pelajari selama ini.”

Aldi     :”iya juga ya pak. Benar sekali yang bapak sampaikan. Terima kasih pak,mungkin aku ini lagi di uji oleh ALLAH SWT dalam kemantapan hatiku untuk memiliki wanita yang ku cintai dengan aturan agama.”

Ustadz :”iya nak. Lain kali harus hati-hati soal percintaan. Sebab di era zaman sekarang ini percintaan tak mengenal aturan agama sama sekali. Mereka hanya ikut-ikutan budaya asing yang sungguh diluar ajaran Islam. Berhati-hatilah dalam setiap tindakan,sebab satu kesalahan yang telah kau perbuat orang akan selalu mengingatnya.meskipun perbuatan baikmu sangatlah banyak,namun karena satu keslahan saja semuanya akan sia-sia saja nak. Ingat pesan ku itu nak,sebab remaja sekarang banyak yang mengerti apa itu aturan agama yang sesungguhnya.”

Aldi     :”siap pak. Terima kasih bapak telah mengingatkan saya. Sekali lagi terima kasih pak.” Ucapku sambil mencium tangan pak ustadz.

Ustadz :”ya sudah ini mau pulan apa mau tetap tinggal di musholla ini?”

Aldi     :”pulanglah pak. Nanti malah dicari orang tuaku. Pak ustadz pulang dulu aja saya masih pengen disini 5 menit lagi”

Ustadz :”ya sudah mari nak. Assalamu’alaikum.”

Aldi     :”iya apak. Wa’alaikumussalam.”

          Setelah beberapa menit pak ustadz meninggalkan ku,aku berusaha mencari arti dari semua ucapan pak ustadz yang telah disampaikan kepadaku barusan. Ku mencoba mencari makna dan arti yang sebenarnya,hingga beberapa menit aku baru menyadarinya. Makna yang ku dapat “jika ingin memiliki wanita yang kau inginkan maka berta’aruflah dan jika kedua belah pihak memang saling suka maka segeralah menikah. Bukan pacaran,sebab pacaran akan menambah kita pada dosa.” Dalam hati ku bergumam,mungkin Rika ingin aku segara melamarnya atau tidak menikahinya agar dia menjadi wanita yang masih tetap suci di mata Sang Pencipta. Aku faham akan jalanmu Rik, sebenarnya kau ingin laki-laki yang sungguh-sungguh mencintaimu di jalan Allah. Dan jika memang laki-laki tersebut menyukaimu maka berta’aruf atau tidak menikahimu agar kau terhindar dari kata pacaran. Aku faham sekarang Rik,aku siap menunggu jawabanmu satu minggu lagi.

          Setelah beberapa menit aku bergumam sendiri,aku memutuskan untuk pulang kerumah. Sesampai dirumah aku menceritakan kejadian tersebut kepada orang tuaku bahwa aku ingin meminang Rika untuk menjadi istri syahku. Itupun aku harus menunggu kepastian jawaban dari Rika satu minggu lagi,jika memang dia menyukaiku maka akan ku pinang dia secara agama dan ku nikahi wanitaku tersebut. Alhamdulillah orang tuaku sangatlah mendukungku,sebab kedua orang tuaku sangatlah menharapkan menantu seperti Rika.

          Satu minggu yang ku tunggu-tunggu telah tiba. Tepat jam 17.59 aku berangkat ke musholla dan mengumandangkan adzan maghrib dan mengharapkan kehadiran Rika. Sebab setelah aku mengungkapkan isi hati ku satu minggu yang lalu hari kemudiannya Rika tak kunjung datang ke musholla untuk melaksanakan shalat setiap harinya. Mungkin dia sedang ada halangan bagi seorang wanita pada umumnya. Ku berusaha sabar menunggunya dan menyimpan rinduku yang begitu teramat menggebu-gebu.

          Adzan maghrib telah ku kumandangkan,namun Rika tak kunjung datang untuk shalat berjama’ah. Sempat terselip perasaan buruk ku terhadapnya “mungkin dia tak datang sebab pertanyaanku yang membuatnya tak enak untuk menolak ku. Mungkin dia gak ingin aku mencintainya” gumam ku dalam hati. Detik demi detik ku pandangi jam dinding,dan sekarang iqomah telah di ucapkan tiba-tiba beberapa menit kemudian Rika datang dengan tergesa-gesa. Dengan nafas yang tidak teratur,mungkin dia habis lari karena sudah telat. Pada malam itu perasaanku lega seketika,wajah murungku berubah menjadi cerah. Rika tersenyum kepadaku dan aku pun juga membalas senyumannya yang teramat manis sekali.

          Shalat maghrib telah ku laksanakan dengan berjama’ah,selanjutnya aku mengambil Al-Qur’an,saat mengambil Al-Qur’an secara tidak sengaja aku berpapasan dengan Rika dan mengambil secara bersamaan. Rika hanya tersenyum tak terucap satu kata dalam bibirnya. Ku mencoba menyapanya.

Aldi    : “assalamu’alaikum. Kemana saja Rik? Kenapa baru kelihatan?”

Rika    :” wa’alaikumussalam. Eh iya ada halangan mas.”

Aldi    : “em. Oh ya Rik,ku tunggu jawabanmu setelah ngaji.”

Rika    :”iya mas.”

          Sesudah berbincang kamipun kembali ketempat masing-masing untuk ngaji. Perasaanku sangat kacau, antara galau dan gundah menjadi satu. Dada ku berdegup kencang tak seperti biasanya. Mungkin karena penasaran akan jawaban dari sang pujaan hatiku. Keringat dingin mulai bercucucuran tak menentu,ku baca ayat demi ayat dengan jelas dan benar. Dengan nada terbata-bata sebab di imbangi dengan perasaan yang kacau.

          Setelah baca Al-Qur’an ku menunggu Rika di depan pintu masuk musholla wanita. Ku duduk sambil melihatnya yang sangat khusyu’ membaca ayat Al-Qur’an. Dalam batinku betapa sempurnanya ciptaan mu Ya Allah. Begitu suci paras dan tingkahnya. Sungguh wanita yang shalehah yang telah kau ciptakan untuk kaum Adam. Begitu dalam lamunanku tak sadar ternyata Rika telah di hadapanku.

Rika    :”mas Aldi!” suaranya yang membuatku kaget.

Aldi    :”astaughfirullahalladzim.” Kagetku.

Rika     :”hahaha. Mas Aldi lagi ngalamun toh. Ngalamunin siapa? Kok sampai segitunya kaget.” Senyum manisnya terpancar begitu jelas. Baru pertama kalinya aku melihat senyuman Rika begitu lebar,menambah kesan cantiknya.

Aldi     :”hehehe.” Garuk-garuk kepala yang gak terasa gatal “gak kok Rik. Cuman ngalamunin kamu saja waktu kamu ngaji begitu hangat terdengar di telinga mas.”

Rika     :”Alhamdulillah. Makasih mas.”

          Senyap mulai terasa,tak ada satu kata yang terucap,kita berdua diam seketika seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Hehehe. Setelah beberapa menit senyap aku mulai memberanikan diri untuk meminta jawaban dari Rika.

Aldi    :”Rik,mas mau menanyakan tentang pertanyaanku satu minggu yang lalu. Bagaimana jawabanmu Rik?” perasaan mulai tak menentu.

Rika    :”em iya mas. Sebelumnya aku minta maaf mas sudah membuatmu menunggu begitu lama. Saya jujur saja sama mas,sebenarnya Rika juga suka sama mas,dari dulu mas. Dari SMA hatiku hanya ada mas Aldi seorang,aku menolak semua laki-laki lain hanya karena ingin menikmati rasa cinta ku terhadap mas Aldi. Soal aku tidak pernah menyapa mas Aldi aku minta maaf. Bukan itu maksudku mas,aku hanya takut dengan godaan syaitan yang begitu dahsyat terhadap hamba Allah. Aku hanya takut dengan sapaanku bisa menjadi sebuah kemaksiatan,aku hanya ingin menghindari semua itu sebisa ku mas. Ku harap mas bisa memakluminya. Jika mas ingin ngajak aku pacaran maaf aku gak bisa mas. Sebab pacaran bisa membuat kita terjerumus pada hal kemaksiatan.” Jelas Rika.

          Betapa terkejutnya hatiku mendengar penjelasan dari wanita yang ada didepanku ini. Hatiku begitru berdesir dan berdegup tambah kencang,perasaan bahagia bercampur tidak kepercayaan membuatku tambah gugup.

Aldi    :”benarkah isi hatimu itu Rik? Yang sama menyukaiku sejak SMA? Maafkan aku yang tak tahu menahu tentang perasaanmu Rik. Iya aku ngerti Rik,aku juga tahu pacaran akan menjerumuskan kita pada kemaksiatan. Aku menembak mu karena aku ingin tahu isi hatimu dan segera meminangmu secepatnya Rik. Agar tak menjadi fitnah dikalangan tetangga kita. Kan ku bicarakan ini kepada kedua orang tuaku,bahwasannya aku ingin meminangmu segera.”

Rika    :”Alhamdulillah. Maksih mas sudah bisa mengerti perasaanku. Akan ku tunggu pinanganmu mas.”

Aldi    :”iya Rik. Shalat yuk? Udah waktunya isya’. Mari ngambil air wudhlu bareng.” Ajak ku.

Rika    :”iya mas. Mari.”

          Setelah itu kami menunaikan perintah Allah yaitu shalat isya’. Sesudah shalat isya’,kami pulang bersamaan tetapi masih menjaga jarak. Sebab takut fitnahan orang yang ada di luar rumah. Aku mengantarnya sampai rumah hingga dia masuk rumah dengan aman. Setelah mengantarnya aku memutuskan pulang dan membicarakan soal Rika menerimaku kepada orang tuaku.

          Tiga hari kemudian aku memutuskan untuk meminang wanita pujaanku. 24 Maret 2006 adalah hari dimana aku meminang wanitaku. Aku kerumah Rika bersama kedua orang tua ku dan beserta kerabat-kerabatku. Pada malam itu Rika begitu tampak cantik dengan balutan jilbab putih dan olesan make up diwajah sucinya. Begitu terlihat cahaya kesucian wajahnya. Dia duduk dihadapanku bersama kedua orang tuanya. Setelah berbincang-bincang antar keluarka pihak pria dan wanita kini waktunya pertukaran cincin. Aku memakaikan cincin di jari manisnya begitupun juga sebaliknya. Setelah pertukaran cincin,waktu memutuskan hari pernikahan kami berdua. Dengan kesepakatan kedua keluarga memutuskan tanggal 01 Aril 2006 tepat pada hari kematian kakak ku. Kami menentukan hari tersebut agar kakak ku yang ada disana juga bisa merasakan kebahagiaan yang kini ku rasakan bersama Rika.

          Tiba dihari yang telah dinanti-nanti yaitu 01 April 2006 hari pernikahan kami. Aku begitu gugup mengucap kalimat pernikahan. Tapi Alhamdulillah lancer tak ada kesalahan sama sekali. Aku sangat merasakan kehadiran kakak ku dalam pesta pernikanku ini. Begitu lengkap dalam keluarga ku,meskipun dalam kenyataannya kurang. Kami berdua sangat bahagia dengan pernikahan ini. Begitupun teman-temanku yang lainnya,Alhamdulillah mereka sudah mengikhlaskan Rika untuk jadi istri syahku. Mereka begitu ikhlas menerima kenyataan,meskipun pada awalnya sempat terjadi perkelahian antara aku dan teman-teman ku yang tak setuju dengan pernikahan kami. Namun,lambat laun mereka menyadari bahwa cinta itu tak bisa di paksakan. Dan apabila jodoh itu sudah ada di tangan Allah.

          Selang beberapa bulan dari pernikahan kami,Alhamdulillah dengan restu Allah kami di karuniai putra dan putri kembar. Lahir secara normal meskipun sempat terjadi pendarahan yang di alami istriku. Syukur Alhamdulillah bayi dan juga istriku selamat. Kini kami telah menjadi keluarga yang lengkap. Kami berjanji untuk selalu menjadi keluarga yang utuh dan keluarga yang adil dalam mendididk anak kami. Putra pertamaku wajahnya mirip dengan almarhum kakak ku,sedangkan putriku mirip dengan ibunya,dengan wajah yang suci nan tentram seperti ibundanya.

          Bahwasannya dengan diawali hubungan yang suci dan tak melanggar aturan Allah kita kan mendapatkan hasil yang sungguh luar biasa indahnya. Sebab cinta yang diawali dengan kesucian akan terlahir benih yang suci pula. Namun jika hubungan sudah diawali dengan perbuatan maksiat akan berujung dengan kemaksiatan pula. Allah itu Maha Tahu dan Maha Adil dalam setiap perbutan.

Senin, 19 September 2016

cerpen yang sangat menyentuh cinta tak harus memiliki


Cinta Tak Harus Memiliki

 

                Ada dua sepasang remaja yang pada awalnya memiliki kekasih. Keduanya memiliki nasib yang sama. 2 tahun menjalin cinta namun pada akhirnya sama-sama diduakan oleh kekasihnya. Suatu hari mereka dipertemukan oleh salah seorang temannya melalui media massa.

Haki : ‘’assalamu’alaikum.’’ Lewat sms

Tak kunjung dibalas oleh wanita itu Haki pun bertanya kepada temannya.

Haki : ‘’fit,kok sms ku gak dibalas temanmu? Apa dia gak mau sms an sama aku?’’ Tanya Haki kepada temannya.

Fita : ‘’masak mas? (kebetulan kalau si Haki itu kakak keponakannya Fita) Coba sms lagi. Mungkin dia gak bawa hp.’’ Jelas Fita.

Haki : ‘’ em,gitu ya? Oke lah.’’

                Beberapa menit kemudian Haki mencoba menghubungi wanita itu kembali.

Haki : ‘’hai.’’

Kisma : ‘’ wa’alaikumussalam. Iya hai juga. Maaf ini siapa ya?’’

Haki : ‘’perkenalkan nama saya M Haki. Boleh kenalan gak?’’

Kisma : ‘’ Haki? Haki siapa ya?’’

Haki : ‘’ keponakannya Fita’’

Kisma : ‘’owalah’’

Haki : ‘’iya boleh kenalan?’’

Kisma : ‘’ iya insya allah.”

                Akhirnya mereka pun semakin mengenal satu sama lain. Hingga pada akhirnya mereka dipertemukan dalam pendaftaran murid baru di sekolah SMK tertentu. Yang pada waktu itu Kisma mengantar temannya yang bernama Fita untuk daftar. Sedangkan si Kisma murid SMA kelas 11. Akhirnya mereka bertemu meskipun pada awalnya susah untuk mencari sosok yang dicari.  Mereka berdua saling melihat dan memandang satu sama lain namun tak ada yang berani untuk menyapa.

                Hingga pada akhirnya pengumuman kelulusan. Namun nama Haki tak tercantum dalam lembaran papan pengumuman tersebut. Hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk mondok disalah satu pondok di kota Jepara. Suatu hari Haki menemui Kisma didapan sekolahan tanpa sepengetahuan Kisma. Hingga beberapa jam wanita yang dia tunggu tak kunjung datang,hingga akhirnya Haki pun memutuskan untuk pulang.

Haki : “ma,tadi aku nunggu kamu didepan sekolahmu.” Lewat sms.

Kisma : “masak a’? kapan a’? kenapa gak bilang a’. Maaf a’ tadi aku shalat dzuhur dulu lalu kumpul                                                    sama teman-teman dulu. Maaf ya a’? aku gak tahu. Tadi lama gak nunggunya?”

Haki : “gak kok ma. Tenang aja. Gak terlalu lama.” Ucap Haki berusaha menyembunyikan kebohongannya.

Kisma : “owalah. Alhamdulillah kalau begitu a’.”

Haki : “iya ma. Kapan bisa ketemu sama kamu ma?”

Kisma : “ gak tahu a’. la kapan?”

Haki : “gampang nanti juga bakalan ketemu kalau Allah mengijinkan kita untuk bertemu.”

                Hingga suatu hari Haki member itahu Kisma kalau dia sudah gak mondok lagi,dikarenakan orangtuanya yang gak mau pisah terlalu jauh sama anak kesayangannya tersebut.

                Waktu  terus berlalu hingga mereka berencana ingin bertemu. Pada waktu itu Kisma sedikit kesal terhadap sikap Haki terhadap Kisma. Mereka berencana bertemu di taman belakang rumah sakit sepulang sekolah. Jam dinding menunjuk kan pukul 12 hingga perasaan Kisma bertolak belakang untuk tidak menemui Haki. Jam 13.30 bel pulang berbunyi,dengan tubuh yang lemas Kisma mencoba untuk melambatkan perjalanan agar tidak jadi bertemu dengan Haki.

Farin : “lemes amat Kis. Kenapa? Ada masalah ya?” ucap sahabat Kisma membuyarkan lamunan

Kisma : “eh,kamu Rin. Cocok banget deh kamu tepat ada disampingku sekarang. Gak ada masalah sih,cuman aku males aja pulang. Em ngomong-ngomong kamu mau pulang sekarang apa nanti?”

Farin : “sekarang lah Kis. Tapi aku lagi nungguin angkutan nih. Kamu mau nemenin aku nunggu mobil pribadiku alias angkutan datang?”

                Dengan kesempatan tersebut Kisma berpikir sejenak, dengan batinnya. “kalau aku nemenin Farin pasti lama,trus aa’ Haki pasti bosen nunggu aku, trus dia pulang deh. Lagian semenjak pisah kelas aku jarang banget kumpul bersama kayak dulu lagi. Biasanya waktu kelas 10 dulu aku juga nganterin Farin nunggu angkutan sebelum kelas 11 dipisah,sekalian saja aku curhat semua masalahku.” Ngumam Kisma.

Farin : “woy….!!! Ngalamun aja. Mikirin apaan sih Kis? Mikirin aku ya? Lagi banyak masalah ya?”

Kisma : “eh,hehehe nggak kok,yye siapa juga yang mikirin kamu. Nggak tuh,ih ke-PDan. Jadi gini lho rin...” Kisma menceritakan kejadian yang sebenarnya. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 14.30  agkutan yang ditunggu Farin juga sudah datang. Akhirnya mereka berpisah,padahal perasaan Kisma belum lega,masih banyak kejadian yang belum sempat Kisma ceritakan. Kisma memutuskan untuk pulang dan menuju ke parkiran motor,ketika ponselnya di aktifkan kembali tiba-tiba ada sms tiga dari Haki.

Haki  : “assalamu’alaikum ma. Ma aku udah pulang,aku pulang awal soalnya habis latihan voly (kebetulan si Haki itu atlet voly).” Sms itu menunjuk jam 12.07

Haki : “ma.” Sms jam 13.30

Haki : “ma aku pulang dulu ya? Kamu lama banget ma. Maaf ya aku pulang duluan. Wassalamu’alaikum ma.” Sms pukul 14.00

                Ketika Kisma membaca sms itu satu persatu,Kisma merasa bersalah. Dia kira dia gak akan menunggunya selama itu. Kisma menyesal kenapa gak dia temui langsung malah memutuskan untuk mengulur waktu. Dia mencoba membalas sms tersebut dan memcoba meminta maaf.

Kisma : “wa’alaikumussalam. Iya a’ maaf  aku ada urusan sedikit. Dan aku juga lupa ngabarin kamu a’,maaf ya a’. maaf sudah membuatmu menunggu begitu lama. Maaf a’.” rasa penyesalan Kisma.

                Kisma memutuskan kembali dengan perasaan bersalahnya. Ketika di tengah perjalanan tiba-tiba ponsel Kisma bergetar disitu tertulis kata 1 pesan Haki.

Haki : “iya ma gak apa-apa kok.  Sudah pulang kamu ma?”

Kisma : “iya a’,ini lagi dijalan.”

Haki : “em gitu,ya udah hati-hati dijalan jangan ngebut-ngebut ma.”

Kisma : “insya allah a’.”

 Hingga pada waktu yang telah diijinkan oleh Allah untuk pertemuan Haki sama Kisma tuk kesekian kali. Sepulang sekolah tanpa di rencanakan mereka gak sengaja dipertemukan diperjalanan pulang.

Haki : “assalamu’alaikum ma. Udah pulang belum?”

Kisma : “wa’alaikumussalam. Iya a’ Alhamdulillah udah. Ini lagi dijalan a’.”

Haki : “sampai mana ma?”

Kisma : “sampai Tanjung a’.”

Haki : “aku tunggu di depan POM bensin ma.”

Kisma : “lho aa’ udah pulang juga tah. Iya a’.”

                Hingga mereka bertemu didepan POM bensin,lalu berjalan bebarengan pulang. Kisma yang didepan di ikuti oleh motornya Haki yang dibelakang. Lalu Haki mencoba bersandingan sama Kisma dan berkata.

Haki : “ma ke Waduk yuk?”

Kisma : “dimana tuh a’? aku gak tahu.”

  Haki : “ masak kamu gak tau? Ya udah kamu duluan aja. Nanti kalau sudah nyampai Kalirejo nanti aku yang di depan.”

Kisma : “hehehe. Iya deh a’. aku ikut aja.”

                  Sesampai tujuan yang diinginkan mereka diam sekatika. Senyap mulai terasa hingga suara jangkrik pada siang itu sampai terdengar. Hingga beberapa menit kemudian Haki mulai membuka pembicaraan dan mulai bercanda tawa bersama. Hingga jam tangan menunjukkan pukul 03.00 merekapun akhirnya pulang bersamaan.

                  Hingga suatu hari sms dari Haki berubah menjadi tegang. Bagaimana tidak tengang? Dia saja membahas tentang mantan pacarnya. Hingga pembahasan berujung pada sms tertentu.

Haki : “ma aku harus gimana? Aku bingung sama perasaan ini. Mantanku minta balikan terus sama aku.”

Kisma : “la perasaanmu gimana a’? apa kamu masih punya rasa sama dia? Jika aa’ masih punya rasa sama dia balikan aja a’.”

Haki : “tapi dia sudah duain aku ma. Aku gak bisa terima jika keingat kejadian itu ma. Kalau rasa aku masih khawatir sama dia ma. Takutnya dia menemukan cowok yang salah. Sedangkan yang aku tahu dia cewek polos yang mudah dipengaruhi sama temannya. Takutnya dia malah dijerumuskan sama temannya ke hal yang buruk ma.”

Kisma : “jika aa’ masih khawatir kenapa gak balikan aja a’? mumpung belum terlambat a’. ntar kalu sudah diambil orang baru tahu rasa lho.”

Haki : “ gak apa-apa ma. Cewek bukan dia aja. Masih banyak cewek di dunia ini.”

Kisma : “tapi yang kayak mantan mu itu jarang a’,bahkan mungkin gak ada a’. a’ percayalah a’ kalu mantan mu itu udah mau berubah a’. mungkin dia sudah mau berubah menjadi lebih baik lagi a’. kenapa gak aa’ coba balikan saja sama dia a’?”

Haki : “kalau aku balikan sama dia la kamu gimana ma?”

                  Dengan raut muka yang bingung Kisma mencoba untuk tenang membalas sms nya Haki. Dengan perasaan dag dig dug tak menentu dengan kalimat yang ditulis Haki tersebut,Kisma mencoba membalasnya dengan hati-hati. Dengan jari gemetaran untuk membalas Kisma tetap melawan perasaan gemetaran tersebut.

Kisma : “maksudnya a’? maksudnya aku gimana apanya? Aku disini gak apa-apa a’,jika aa’ mau balikan sma mantan aa’ aku gak apa-apa kok. Tetap aku dukung. Lagian kan aa’ sayang dan cintanya sama mantan aa’ bukan sama aku. Jadi aku ya gak apa-apa a’.”

Haki : “aku sayang kamu kok ma.”

                  Kisma berusaha memberanikan diri untuk membuka sms nya Haki. Hingga pesan telah terbuka betapa terkejutnya Kisma. Tiba-tiba air mata Kisma menetes tanpa sebab. Mungkin karena air mata kebahagiaan yang dia rasakan. Namun dia berusaha tenang untuk membalasnya kembali.

Kisma : “ a’ jangan main-main sama kata-kata itu.”

Haki : “aku gak main-main ma.”

                  Hingga pembahasan itu berakhir dan tak tentu arah kata “AKU SAYANG KAMU MA” tak ada keseriusan dan ikatan dalam pacaran. Padahal Kisma berharap Haki menembaknya. Tapi malah hanya ucapan yang terlawatkan. Bagaikan angin pantai yang terhempas ke dasar daratan. Tak jelas arah tujuannya.

                  Hingga suatu hari Haki sudah tak jelas kabarnya. Sms jarang becandapun tak pernah terucap kembali. Sms hanya sekedar basa basi saja,tak ada hal yang menarik lagi. Hingga pada akhirnya Kisma mengalami kecelakaan dan itu disebabkan Kisma kebanyakan pikiran soal tugas sekolah dan kisahnya dengan Haki yang bagiku teramat bodoh. Kisma terserempet motor dari belakang dan kakinya tertindih oleh motornya sehingga kakinya terluka lumayan parah. Dan orang yang nyempret Kisma juga gak bertanggung jawab dan langsung melarikan diri. Dengan bantuan orang-orang yang menolong Kisma,Kisma mencoba berjalan dan mengendarai motornya untuk pulang. Dengan isak tangis yang ditahan Kisma akhirnya dia luapkan di tengah perjalanan yang pada waktu itu sangat sepi. Kisma mencoba memijat kakinya dan memperbaiki motornya yang sedikit rusak. Dengan tangisan yang menetes deras membasahi pipinya Kisma mencoba menghapusnya dan berusaha menyembunyikan rasa kesakitannya tersebut. Hingga tak tahu kenapa tangannya meraih ponsel dan jarinya gak sengaja mengetik sms untuk Haki.

Kisma : “a’ aku kecelakaan,kakiku sakit a’. aa’ dimana saja? Sakit a’.” sambil mengusap air matanya yang semakin deras.

                  Kisma menunggu Haki berharap dia bisa datang dan menenangkan Kisma. Hingga beberapa menit tak kunjung dia balas. Kisma memutuskan untuk kembali pulang dengan harapan yang hampa. Hingga sesampai dirumah ponselnya Kisma bergetar menandakan ada sms. Ada dua sms dari Haki,dan itu belum sempat di balas Kisma waktu masih dalam perjalanan pulang.

Haki : “kecelakaan dimana ma? Kamu sekarang dimana ma?”

Haki : “ma.”

                  Pada awalnya sempat ada perasaan untuk tidak membalas dan akhirnya Kisma mencoba untuk membalasnya.

Kisma : “aku udah pulang a’. gak usah cari aku a’,aku sudah sampai rumah. Kecelakaan di Kalirejo a’,depan makam.”

Haki : “em gitu. Kok bisa kecelakaan gimana ceritanya ma? Kakimu gak apa-apa kan?”

Kisma : “gak apa-apa kok a’. ini lagi diurut sama tukang pijat a’. Ceritanya panjang a’,mungkin aku lagi kecapean a’,butuh istirahat mungkin a’.” bohong Kisma yang mencoba menyembunyikan kejadian yang sebenarnya.

Haki : “em. Lain kali hati-hati ma.”

Kisma : “iya a.”

                  Semenjak kajadian tersebut Kisma diantar jemput. Paginya berangkat bareng om nya sekalian berangkat ke kantor. Siangnya naik bis dan di jemput di tempat pemberhentian bis yang terakhir. Hingga tiga hari selalu diantar jemput, tiba-tiba waktu naik bis Haki menjemput Kisma dan dia disuruh turun dari bis dan kemudian pulang dianterin Haki. Bukannya langsung pulang tiba-tiba diajak ke Waduk yang dulu pertama kali bertemu ditempat tersebut. Mereka berbincang-bincang,hingga pada akhirnya memutuskan untuk pulang. Kisma dianterin sampai perbatasan desanya,karena Kisma tak ingin Haki mengantar sampai rumahnya. Hingga akhirnya Haki pulang dan Kisma dijemput ibunya.

                  Hingga beberapa hari Haki berubah,tak seperti Haki yang sebelumnya. Hingga Kisma memberanikan diri untuk bertanya.

Kisma : “a’ apa kamu sudah balikan sama mantanmu? Akhir-akhir ini aa’ berubah. Sms pun aa’ sering manggil mantanmu dengan kalimat cewekku. Apa kalian sudah balikan?”

Haki : “ iya ma. Maaf ma,aku balikan sama dia karena gara-gara dulu aku pernah menciumnya. Dan aku harus bertanggung jawab atas sikap ku tersebut. Maaf ma.”

                Tanpa sengaja air mata Kisma menetes ketika membaca sms yang tak pernah dia harapkan tersebut akhirnya Kisma mencoba menenangkan dirinya dengan kalimat “gak apa-apa” dia sering menenangkan dirinya dengan kalimat tersebut.  Hingga akhirnya jarinya gemeteran untuk membalas sms tersebut.

Kisma : “owalah. Hehehe iya a’ gak apa-apa kok. Selamat ya a’,semoga hubunganmu langgeng sama cewek pilihanmu sekarang. Aa’ bahagia aku juga akan bahagia a’. selamat a’ sukses selalu ya a’.”

Haki : “amin ma. Makasih ya ma atas do’anya.”

Kisma : “sama-sama a’.” sambil mengusap air matanya.

                Hingga beberapa minggu kemudian hubungannya Haki sama Kisma semakin merenggang. Smspun jarang,semenjak kejadian tersebut Kisma memutuskan untuk tidak mengganggu Haki dikarenakan takut terjadi kesalah fahaman dalam hubungan mereka. Dan pada akhirnya ketidak kuatan Kisma menerima seorang yang dia sayangi dan cintai selama ini bersama wanita lain yang memang special buat Haki,Kisma memutuskan untuk balikan sama mantan pacarnya yang dulu.

Hingga pada akhirnya kisah mereka tak bisa bersatu,meskipun pernah terucap kata “SAYANG”. Namun cinta tak mungkin didasari dengan kata “SAYANG” saja,namun kemantapan hati untuk saling memiliki. Kata sayang tak berarti bisa memiliki dan kata sayang bukan berarti menjamin sebuah ikatan. Hingga pada akhirnya kisah mereka bisa disimpulkan bahwa “CINTA TAK HARUS MEMILIKI.”

Jumat, 09 September 2016

puisi menyentuh tentang Kerinduan


Kerinduan


Sepucuk rindu yang tersirat dilubuk hati..
Kasih sayang yang telah hilang dengan sendiri...
Ku ingin melihat wajahnya satu kali lagi...
Meskipun langit tak merestui..
Bahagiakah dia disana?
Ingatkah dia denganku??
Ku rindu wajah mu IBU...
Ku tak tau seperti apakah kamu?
Bagaimana kah wajahmu...
Ku ingin melihat seulas senyum dibirmu....
Seperti apa itu..
Ku ingin melihatmu IBU..
Aku rindu,,,sungguh teramat rindu..
Bagaikan daun yang patah dari batangnya...
Yang terbawa angin entah kemana..
Mungkin dikehidupan yang lain kita akan bertemu..
Seperti impian ku yang terangan-angan...